Kamis, 21 Februari 2013

Sudahkah Kita Dewasa


Tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Lalu, bagaimana mengukur tingkat kedewasaan seseorang itu?
Betty sering sebel kalau teman-temannya komentar, “Kamu kok engga Dewasa gitu sih, ?atau nyokapnya juga pernah komentar, “Betty, kamu kan sudah gede, dewasa dikit dong!
Kita mungkin pernah menghadapi situasi seperti yang dialami Betty. Atau kita sendiri sudah bosan dikatakan anak-anak, ingin dianggap dewasa. Dibilang anak-anak ogah, dibilang dewasa juga masih bingung. Memang dewasa itu seperti apa?
Berikut ini ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang.
1. Intelektual
Secara intelektual, kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita memiliki pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Namun, tetap memerhatikan pendapat orang lain meskipun tidak bersandar pada pendapat itu.
Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan buktu, alas an nyata, dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak binging jika ada masalah, tapi dianalisais sebab-sebabnya sehinga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya.
2. Emosional
Secara emosional, kita dikatakan sebagi orang dewasa ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apapun emosi yang sedang kita alami, kita tetap dapat menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tanpa dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Oleh karena itu, pada dasarnya orang dewasa juga memiliki kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
3. Social
Secara sosial , kedewasaan tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahahabatn. Tidak bergantung pada siapapun, tapi bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Kita dapat menyesuaikan diri dan hormat dengan hokum, kebiasaan, dan adat-istiadat masyarakat di mana pun kita berada.
4. Moral
Secara moral, kedewasaan berarti kesetiaan kita pada asas-asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya semakin dewasa seseorang, akan semakin mementingkan orang lian dapripada diri sendiri.
5. Spiritual
Kedewasaan spiritual tamapak dari keyakinan yand tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Jika hal itu sudah tercapai, kita akan memiliki kemampuan mencintai orang lain tanpa batas batas agama, ras suku atau golongan.
Seseorang yang disebut dewasa tidak lantas meninggalkan segala bentuk keceriaan kegembiraan, dan kegairahan hidup? Orang dewasa tidak harus selalu bersikap serius. Adkalanya orang dewasa juga bersiakap jahil dan senang bercanda untuk memecahkan kebekuan atau menurunkan ketagangan.
Penghambat kedewasaan
Kedewasaan tidak selalu berkaita denga usia. Kadangkala ada orang yang umumna boleh dibilang tua, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan, pengen menang sendiri, pemarah dan taidak mau kalah dan tidak mau kalah. Namun, ada yang sebaliknya meskipun usianya masih muda, dia mampu menjadi panutan teman-tamnnya.
Kedewasaan merupakan prosesn perkembangan kepribadian. Karena proses, jadi tidak bisa insta. Bukan hanya dengan berdandan ala orang dewasa menjaikan kita dewasa. Kedewasaan itu lebih kesikap kita alam menghadapi apapun. Seharusnya yang umurnya lebih banyak biasanya akan lebih dwasa karena telah mengalami banyak hal dalam hidup dan lebih banyak belajar dari pengalaman. Tapi kenyataan tidak selalu begitu, karena pendewasaan dalam prosesnya bisa mengalami kemajuan, mandek, bahkan mundur. Orang yang selalu belajar dari pengalaman dan suka instropeksi diri biasanya proses kedewasaannya makin maju. Artinya, makin hari ia makin tumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana. Sebaliknya orang cepat merasa puas sehingga marasa tidak perlu belajar lagi, menjada, tidak mau dikritik dan selalu lari dari masalah, akan mengalami hambata dalam proses pendewasan.
Latihan
Cirri paling mencolok orang yang tidak dewasa adalah egoism yang tinggi. Artinya selalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan orang lain. Jadi, latihan pertama untuk menjadi dwasa adalah berlatih untuk mengurangi sifat egois kita.
Latihan berikutna adalah belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya. Pada dasarnya orang menjadi egois karena ia tidak mampu untuk menerima dirinya sendiri apa adanya. jadi, cobalah gali kekurangan dan eklebihan pada diri  kita. Terimalah apapun yang ada pada diri sendiri. Dengan menerima diri sendiri apa adanya, kita akan mempu bersikap terbuka pada orang lain. Mencintai semua yang ada dalam diri kita sendiri adalah dasar untuk dapat mencintai semua manusia. Jika kita mampu mencintai semua manusia apa adanya, itulah berarti kita talah sampai di “punca kedewasaan”!
Kuncinya adalah belajar… berlatih … belajra.. Dari pengalaman, Berlatih terus yah.
Referensi: Kompas, 1 April 2005
Buku Bimbingan & Konseling untuk SMA dan MA kelas XII, hl. 49. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar