Senin, 02 November 2015

5 Ribu Saja

Ini sekedar berbagi bahwa segala ssuatu gak mesti mewah, gak mesti mahal, dan gak mesti bermerek atau bergengsi yang penting sesuai fungsinya dan dapat menunjang kebutuhan hidup kita tanpa berlebihan. Sesuai pengalaman ibu saya khusunya. Anggaplah orang dulu yang selalu sederhana dan prihatin, makan gak terlalu enak (gak mahal), pakain sederhana dan tidak gunta ganti, biaya untuk jajan atau pengeluaran minim, selalu memikirkan untuk hari esok dan tidak mumpung punya.
Walaupun demikian tetapi orang dulu dapat mendidik dan membesarkan anak-anakanya, bisa menyekolahkan tanpa beribet dan banyak omong seperti orang-orang saat ini. Prinsip orang tua bijak selalu berkata “lebih baik saya tidak makan daripada anak saya tidak bisa sekolah.” “lebih baik menunda kesenangan sesaat demi kebahagiaan yang panjag.” Orang tua dulu tingkat kesadarannya sangat tinggi, dan memiliki kesabaran yang kuat. Alhasil melahirkan generasi yang cerdas meski mereka memberi asupan makanan tak sebergizi saat ini yang berbagai macam makanan yang katanya bergizi dan enak dapat mencerdaska dan menumbuhkembangka otak anak. Bukankah dulu sangat jarang adanya susu dan keju, roti, dan makanan2 lain yang katanya sangat bergiji. Yang penulis tau orang-orang dulu makannya jagung, singkong rebus, ubi-ubian dan sejenisnya, walaupun makan nasi tapi lauknya sederhana dan secukupnya jika sudah ada ikan sudah cukup atau sebaliknya bila sudah ada lauk tempe dan sayur sudah cukup gak perlu yang lain. Namun tidak seperti sekarang, karena lebih cenderung rakus. Saat makan saja inginnya banyak menu, segala macam makanan dikeluarkan dan dimakan semua misalnya ada daging, tahu tempe, sayur, buah-buahan, susu, jus, lalapan, daging ayam dan semua makanan yang enak2 itu. Yag lebih heran ketika bulan puasa pengeluaran untuk menyediakan makanan atau berbuka puasa lebih besar daripada pengeluaran bukan dibulan puasa (hari biasa). Padahal secara logika harusnya lebih hemat karena waktu seharian tidak makan dan minum tapi kebanyakan dari kita balas dendam segala makanan kita lahap disaat berbuka sehingga kita tidak mendapatka keberhakahan bulan puasa karena tidak bisa menahan hawa nafsu termasuk nafsu makan yang begitu rakus.
Semantara itu disini penulis menyebut sebuah nominal lima ribu saja, yah inilah fakta yang penulis amati. Kata lima ribu tersebut saya jumpai disebuah warung nasi uduk dicilegon, yang buka hanya sore hingga malam, ketika itu saya pesan uduk satu piring dan diberi 3 potong tempe goreng. Kemudian segelas teh hangat biasa. Saya makan dan rasanya enak dilidah. Selain rasa makanannya yang enak pelayanannya juga sangat ramah, yang melayani seorang ibu yang masih muda murah senyum. Ia ditemani oleh suaminya dan anaknya putra satu dan putrid satu. Semua mengerjakan tugasnya masing2. Ah begitu indahnya pemandangan ini melihat mereka sangat kompak dalam melayani pelanggan dan mencari duit. Meskipun warung uduk itu sederhana tapi itu sebagai sumber penghasilan yang luar biasa bagi keluarga mereka.
Setelah selesai makan, saya langsung menanyakan “berapa semuanya bu”, kata ibu2 itu “Lima ribu saja mas” subhanallah harga yang sangat murah bukan. Selain enak rasanya kenyang diperut. Malam itu diperjalanan pulang saya terus merenungi, walaupun murah yang penting kenyang, walaupun tidak bergengsi dan bermerek serta tidak memiliki tempat yang wah yang penting dapat memadam kelaparan saya. Inilah selama ini yang saya cari. Ya kesederhanaan. Coba kita bandingkan saudara silahkan makan dengan menu yang menurut anda paling enak dan banyak ragamnya saya cukup menu vaforit saya tadi yang murah meriah itu. Lalu lihat hasilnya sama2 kenyangkan nanti pas diproduksi diperut dan dikeluarkan di WC juga samakan. Tapi apa yang beda. Saudara mengeluarkan banyak duit sedangkan saya hanya lima ribu saja bukan?.
Kesimpulannya bahwa kita tidak perlu mewah dan mengeluarkan banyak duit, asalakan sesuai dengan kebutuhan kita, asalakan hakekatnya sama seperti dalam memilih menu makanan, pakaian, dan kebutuhan2 lain. Kalau bisa sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu ada baiknya saudara memikirkan seberapa besar manfaat dari sesuatu tersebut. Kenapa demikian? Karena dalam hidup pastinya harus ada yang diprioritaskan kebutuhan anda yang penting namun adalagi yang lebih penting. Maka pilihlah yang lebih penting itu. Seberapapun harta yang kita miliki toh diantaranya ada hak untuk orang2 yang tidak mampu yang berada dibawah kita.  Dripada kita menghambur2kan uang uantuk kesenangan kita yang tidak jelas lebih baik kita berikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Apalagi segala sesuatunya menggunakan fasilitas Negara atau rakyat, maka berhati2 lah karena semua itu bukan sepenuhnya hak kita. Seseorang yang mementingkan dunia dan terlalu nafsu dengan segala macam kebutuhan manusia itu disebut hedonisme.
Akhirnya semoga kita terhindar dari sikap hedonisme, menjadi orang yang bijak dan sederhana sehingga kita bisa menjalani hidup dengan damai dan berkah serta mendapat ridha Allah swt.*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar