Senin, 23 November 2015

Guru Tidak Lansung Menyalahkan Siswa

Pada saat anak didik membutuhkan bantuan, seorang guru akan segera melakukannya. Inilah hal yang dilakukan oleh seorang guru yang dicintai oleh didiknya. Sebaliknya, apabila terjadi kekurangan, kesalahan, atau bahkan kegagalan dalam proses belajar mengajar, hal yang dilakukan oleh seorang guru yang dicintai adalah tidak segera menyalahkan anak didiknya.
Sebagai seorang guru, apa yang kita lakukan jika mendapati hasi ujian anak didik kita tidak sesuai dengan target, bahkan boleh dikatakan gagal? Bila kita ingin menjadi seorang guru yang dicintai oleh anak didik dan berharap bisa memperbaiki keadaan, jangan segera menyalahkan anak didik. Demikian pula bila terjadi, misalnya anak didik ramai di dalam kelas; ada yang bandel, padahal sudah sering dinasehati; anak didik bosan mengikuti pelajaran; atau banyak terjadi masalah lainnya.
Menghadapi persoalan sebagaimana diatas, guru yang baik dan dicintai adalah yang tidak segera menyalahkan anak didik. Memang, bila dipikir sepintas, hal yang paling mudah adalah menyalahkan anak didik. Apalagi, seorang guru merasa sudah mengajar dengan baik. Bahkan, untuk anak yang dinilai bandel, seorang guru yang sudah tidak kurang-kurang dalam menasehatinya. Maka, menyalahkan anak didik bisa jadi dinilai sebagai hal yang wajar atau bahkan sudah seharusnya.
Disinilah dibutuhkan keterangan seorang guru untuk tidak segera menyalahkan orang lain yang dalam hal ini adalah anak didik. Apabila terjadi hal yang tidak diinginkan dalam proses belajar mengajar. Bersikap tenang dan tidak segera menyalahkan ini penting sekali agar seorang guru dapat melakukan intropeksi sekaligus mengevaluasi terhadap beberapa hal yang terkait.
Ketika anak dvdik gagal dalam mengerjakan soal ujian, anak didvk tampak bosan di dalam kelas, anak didik membandel  bahhkan suka menganggu temannya, atau bahkan anak didik tidak patuh terhadap sang guru, sungguh perlu dicari jawabannya tentang apa yang menyebabkannya. Bukan serta-erta segera menyalahakan anak didik. Bisa jadi masalah yang terjadi disebabkan oleh metode yang dipakai oleh seorang guru sudah tidak cocok lagi.
Metode yang dipakai oleh seorang guru bisa jadi cocok dalam saat tertentu atau pada situasi tertentu. Namun, pada saat yang lain, membutuhkan metode pembelajaran yang lebih tepat. Atau, anak didik justru mengalami kejenuhan karena metode pembelajaran yang dipakai tidak pernah berubah. Disinilah seorang guru dituntut untuk senantiasa bisa berinovasi dalam menggunakan metode pembelajaran.
Lagipula, ada banyak hal yang harus dievaluasi oleh guru ketika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam proses belajar mengajar. Di samping mengevaluasi metode pembelajaran yang dipakai oleh seorang guru sebagaimana di atas, guru juga perlu mengevaluasi kemampuannya dalam menguasai materi pelajaran.
Jangan-jangan, beberapa hal yang tidak diinginkan dalam proses belajar mengaar terjadi karena seorang guru memang tidak bisa menguasai materi pelajaran dengan baik. Bisa pula ada faktor tertentu dari sikap sang guru yang tidak disukai oleh anak didik. Atau, bisa juga cara memberikan penjelasan materi pelajaran oleh seorang guru yang hanya berputar-putar tidak jelas dan justru membuat bingung anak didik.
Jadi, langkah pertama yang dilakukan oleh seorang guru ingin  dicintai oleh anak didiknya adalah melakukan intropeksi dan mengecaluasi dirinya dulu. Sungguh, anak didik yang langsung disalahkan ketika terjadi permasalahan memang tidak membuat kenyamanan dalam dirinya. Apalagi, untuk hal yang sesungguhnya bukan kesalahannya secara langsung. Dalam bahasa lain, “jangan mencari kambing hitam atas kesalahan yang terjadi”.
Berkaitan dengan tidak boleh serta-merta menyalahkan anak didik ini apakah berarti anak didik memang tidak boleh dipersalahkan? Sungguh, ketika terjadi masalah dalam proses belajar mengajar yang sudah dijalankan untuk menemukan penyebab permasalahn yang terjadi.
Dalam rangka melakukan evaluasi inilah, penulis menekankan bahwa mengevaluasi apa yang terjadi dan telah dilakukan oleh sang guru merupakan hal yang penting. Bila hal ini sudah dilakukan dan telah menemukan ajwaban bahwa memang benar penyebabnya ada pada diri dan yang telah dilakukan oleh sang guru, upaya perbaikan perlu dilakukan oleh sang guru sendiri. Namun, apabila evaluasi terhadap diri dan apa yang dilakukan oleh sang guru tak juga menemukan jawabnya, evaluasi perlu diperlebar kepada faktor-faktor penyebab yang lainnya, termasuk dalam hal ini diri anak didik. Bila ternyata penyebab ada pada diri anak didik, perlu juga ditemukan solusi dan perbaikannya.
Ya, segera melakukan evaluasi dan melakukan perbaikan, inilah kunci penting bagi seorang guru apabila terjadi yang tidak diinginkan dalam proses belajar mengajar. Sekali lagi, bukan bukan segera menyalahkan anak didik. Sungguh, apabila hal yang penting ini diperhatikan dan dilakukan dengan baik oleh seorang guru, ia akan dicintai oleh anak didiknya sekaligus juga bisa mengadakan banyak perbaikan dalam proses belajar mengajar.*

2 komentar:

  1. Terlalu idealis, pak...adakah guru yg seperti itu?? Tidak heran kalau banyak anak murid yg semakin ngelunjak dan berani pada gurunya bahkan orangtua murid memukul guru karena murid terlalu banyak dimanja..jaman dulu guru mendispilinkan murid dengan hukuman gak pake dimengerti buktinya generasinya bener...sekarang? Hhhmm, terlalu banyak teori!!!

    BalasHapus
  2. Teori.. teori.. terlalu banyak teori

    BalasHapus