Senin, 02 November 2015

Pengakuan Hamba

Terkadang hamba merasa kuat sendiri, mampu sendiri, dan hidup sendiri tanpa menganggap campur tangan-Mu ya Rob. Karena hamba semaunya. Dalam namamu yang mulia, Maha penyayang, Maha pengasih dan Maha Gofur, tapi hamba senang menghardik anak yatim, orang tak mampu dan senang menyakiti orang lain dan dengan sombongnya hamba merasa angkuh tak suka memaafkan orang lain ketika meminta maaf. Padahal engkaulah pemilik hati dan engkaulah sebaik-baiknya penutup rahasia atau aib hamba. Tapi hamba senang menggunjing, menggali kesalahan dan kekurangan orang lain, padahal perumpamaan bagi orang yang menggunjing bagaikan memakan bangkai saudaraya sendiri.
Hamba merasa mulia, hebat, agung, besar dan terbaik dimata manusia. Padahal belum tentu dimata-Mu hamba ini mulia. Karena pada hakekatnya seseorang dianggap mulia oleh orang lain adalah karena Allah yang mengangkat derajatnya atau Allah yang masih menutupi semua aib atau kekurangan hambanya. Karena jika Allah telah membuka aib atau kelemahan kita, maka tiada daya dan upaya karena semua yang kita miliki hanyalah milik Allah semata. Dan Allah berkehendak mencabut kemuliaan atau anugrah yang telah diberi kapan saja dari siapapun dengan mudah.
Ada pesan mungkin dapat kita renungkan dan ini bisa semoga dapat di indahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua hal bila dikerjakan sama-sama akan mendatangkan kebaikan. Pertama jika mendapat kesusahan atau ujian ia bersabar dan bila diberi kelapangan ia bersyukur.
Ya Rob, hamba malu karena hamba belum mampu seperti yang dituturkan oleh Rasulullah panutan kami karena hamba sering berada diambang keputusasaan dan hati terkoyak serta ragu-ragu akan pertolongan dan bantuan dari-Mu. Bagaimana hamba disebut bersyukur sementara hamba sering menumpuk-numpuk harta, berlaku dzalim terhadap orang lain dan dirisendiri, menghina dan menindas yang lemah, hamba sejenak berpikir kekayaan atau apapun yang hamba miliki dianggap hasvl jerih payah sendiri, yang membuat hamba sibuk dan terlupa akan perintah dan kewajiban dari-Mu. Mungkin telah tertutup hatinya karena yang dipikirkan dunia, dunia dan dunia yang fana ini hamba abai terhadap kampung akhirat.
Lantas apa benar dengan banyak harta kita menjadi wibawa atau hebat serta dihormati, disegani orang lain. Lalu bagaimana dimata Allah apakah sama seperti itu, akan dicintaiNya sebagai hambaNya dan mulia dimata Allah. Wallahu’alam.
Ampunkan kami ya Rob, atas kedangkalan pikiran kami. Mengapa orang mengejar harta sampai mati-matian untuk mendapat harta tanpa sadar halal atau haram, merugikan orang lain atau tidak. Sampai diambang kematiannya membawa bekal nafsu harta dan dunia bukan amal shaleh dan kahirnya dia mati sia-sia kini tinggal penyesalan saja dan airmata atas perbuatannya yang telah ingkar kepada Allah dengan tangan hampa ia menuju akhirat.
Taka ada salahna kita renungkan kembali pesan baginda Nabi yang berbunyi “Barangsiapa menginginkan dunia dalah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat dengan ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka dengan ilmu.” Dari pesan tersebut hamba memahami begitu pentingnya sebuah ilmu. Tapi hamba malas-malasan untuk belajar. Ingin pintar, ingin rajin dan ingin pandai percuma jika tak pernah haus ilmu dan tak ada kemauan untuk belajar. Pesan diatas dilengkapi dengan pesan yang berikut “Tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina.” Tuntulah ilmu dari buayan hingga liang lahat.” Subhanallah sungguh agungnya duhai ilmu. Menuntut ilmu tiada batasnya, dimanapun kapanpun  dan siapapun selama nafas masih dikandung badan disitulah masih ada kesempatan emas untuk belajar.
Adakah dari saudara, yang dengan ini memulai semangat baru untuk giat belajar terus menggali pengetahuan, haus dan lapar tentang ilmu pengetahuan tentunya ilmu yang bermanfaat. Tapi masalahnya kebanyakan hamba yang baru memiliki secuil ilmu saja langsung sombong, padahal ilmu yang ada pada hamba hanya sedikit semisal jari telunjuk dicelupkan ke air laut lalu diangkat dan air yang menetes dari jari itulah ilmu yang kita miliki sedangkan airlaut yang melimpah adalah ilmu Engkau ya Rob yang amat tinggi nan luas. Seharusnya malu dan apat belajar dari sebuah pribahasa yang berbunyi “ Belajarlah dari padi bila semakin berisi ia semakin merunduk.
Bukankahn Rasulullah mengajarkan agar tawadhu, rendah hati, lapang dada, bersyukur, bersabar, ikhlas, tawakkal, ridho, istiqomah, qonaah, amanah, siddiq, penyayang, penyantun, pemaaf dan sifat mulia  lainnya yang telah diwariskan kepada umatnya. Jika kita seorang yang cerdas maka dapat mengambil hikmah atu pelajaran dari orang-orang terdahulu. Bila kita sedang diuji dengan ujian yang berat ingatlah bahwa orang-orang terdahulu lebih berat ujian yang diterimanya seperti para Nabi dan rosul, sahabat, imam, syekh, dan orang-orang shaleh lainnya yang telah terbukti bila dapat melewati ujian demi ujian dan ridho maka derajat mereka diangkat oleh Allah dan amat mulia dimata Allah swt. Sebaliknya bagi orang-orang yang dzalim, murka dan ingkar kepada Allah dihinakan dan disiasiakan, misalnya raja Firaun, raja Jamrud pada masa Nabi ibrohim ia mati hanya sebab makhluk kecil yakni nyamuk sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an itu atas kehendak Allah dan sebagai perumpamaan kecil saja agar kita bisa berpikir dan mengambil hikmah sehingga kita mejadi hamba yang bertaqwa.
Kejahatan dibalas dengan kebaikan itulah yang diajarkan Rasulullah dan menjadi icon agama islam dengan harapan mendapat balasan dari Allah yang lebih baik.
Banyaknya pemimpin yang menyelewngkan amanah rakyat, senang menyuap dan disuap agar segalanya menjadi lancer. Bertindak seenaknya tanpa berpikir panjang dan bijaksana atas nama senang dan tidak bukan baik atau tidak, benar atau salah. Bukan atas dasar mencari keridhoan Allah swt.
Sesekali hamba membaca Al-Qur’an dan terjemahannya sungguh hamba mendapat ketenangan dan pencerahan, kerena segala problem atau permasalahn semua ada dalam Al-Qur’an sebagaimana telah dijelaskan diantara fungsi Al-Qur’an adalah sebagai petujuk. Amat rugi bila orang islam menyeia-nyiakan waktu hidupnya bila tak mengenal Al-Qur’an. Bila hati seseorang masih jernih dan bercahaya maka ia akan mudah mendapat hidayah atau petunjuk, bila hati seseorang telah mengeras dan gelap maka bagaikan berjalan dikegelapan malam tanpa cahaya.
Diantara hamba-hambamu sering bekerja mengejar dunia sampai melupakan akhirat. Yang punya rumah gedong, punya perhiasan, mobil mewah, gadis cantik dll. Amat sering melalaikan. Sungguh tak seimbang karena dalam ajaran islam aka nada hari akhir atau kampong kakhirat artinya hidup kita harus seimbang antara dunia dan akhirat. Dan sebagai penutup bolehlah kita menyimak pesan Rasulullah sebagai berikut. “Kerjakanlah duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan kerjakanlah akhiratmu sekan-akan engkau akan mati esok. Sungguh setiap jiwa ada yang menjaganya. Iman, islam dan ikhsan. Dan ikhsan adalah salah satu keyakinan ketika  kita berbuat atau melakukan ibadah setidaknya masih memiliki rasa bahwa Allah selalu melihat, mendengar dan mengawasi hamba-hambanya. *An-Nahl
Wallahua’lam. Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar