Senin, 02 November 2015

Rekayasa Imajinasi : Tips Menulis Cerpen

Kebanyakan pengarang cerpen tidak membuat konsep terlebih dulu, baru kemudian diketik rapi. Ia akan langsung menuliskan cerpennya sampai selesai selesai. Paling-paling setelah selesai menulis, hanya ada koreksian, seandainya (siapa tahu) ada kesalahan ketik, meskipun sudah dikoreksi. Koreksian ini semakin tidak menjadi masalah berat lagi sejak computer telah menggantikan peran mesin ketik.
Bagi orang yang terbiasa membuat konsep terlebih dahulu, baru kemudian mengetik rapi (biasanya bukan penulis prosa), menulis ide secara langsung merupakan hal yang istimewa di matanya. Oleh karena itu sering datang pertanyaan kepada pengarang cerpen : apakah anda tidak mengonsep  terlebih dulu? Bagi pengarang pertanyaan itu sangat konyol karena baginya menulis cerpen berarti telah mempunyai konsep di kepalanya. Untuk apa ditulis dua kali? Bukankah kalau seorang “pemburu” telah menemukan pelatuk senjatanya, ia segera menembak?
Sebelum pelatuk ditekan, sebenarnya dikepala pengarang telah tersimpan cerpen itu. Penulis tinggal menuangkan saja dalam bentuk tulisan. Hasilnya mungkin tidak persis seperti rekaman kaset video yang langsung dapat diputar secara otomatis, tetapi sekurang-kurangnya konsep dasarnya sudah ada. Untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan diperlukan bahasa sebagi media, siasat, dan rekayasa imajinasi sehingga cerpen merupakan suatu karya padat, unik, dan enak dibaca.
Menyiasati menulis dengan merekayasa imajinasi, pengarang berurusan dengan dunia “mungkin”. Imajinasi tidak mungkn lahir begitu saja tanpa pengalaman, baik nyata maupun batin. Para ahli sastra mengatakan bahwa karya seni tidak berangkat dari kekosongan. Artinya, cikal bakal karya seni itu, termasuk sastra, merupakan refleksi dari kenyataan seperti yang telah dijelaskan terdahulu kadang-kadang, persoalan kecil dalamkenyataan sehari-hari didalam persoalan itu hanyalah rutinitas saja, tetapi ia menjadi topic (bahasa dasar) sebuah cerpen.
Untuk lebih kongkretnya, marilah kita lihat bagaimana proses lahirnya cerpen “istri tukang kasur” yang berangkat dari realitas.
Menurut pengarangnya, cerpen tersebut lahir setelah merekam objek secara tak sengaja selam hamper setahun. Di dekat sebuah kampus perguruan tinggi neeri di kota padang, ada jalan utama yang ramai karena di pinggirnya berjejal kedai-kedai dan warung nasi yang tumbuh cepat. Disebelah warung nasi yang cukup laris, terselip sebuah kedai kasur yang tampak kontras dengan warung nasi disebelahnya. Warung nasi itu senantiasa ramai oleh pengunjung, terutama pada jam-jam makan siang. Sementara itu, kedai kasur disebelahnya kelihatan seperti tidak pernah digubris pembeli.
Suatu siang sang pengarang dan istri mampir di kedai kasur itu karena ingin membeli beberapa kilo kapas untuk menambah isi bantal yang sudah mulai kemps. Ternyata, pemilik kedai itu tidak pernah memperlihatkan keramahannya pada pembeli dan tak mau barang dagangannya ditawar. Istri sang pengarang merasa harga yang ditawarkan pemilik kedai kasur itu terlalu tinggi dibandingkan dengan harga di pasar pusat kota. Kunjungan itu berakhir dengan gagalnya pengarang dan istrinya membeli kapas (kapuk) hari itu.
Di hari yang lain sang pengarang mampir di warung nasi sebelah kedai kasur itu untuk membeli beberapa bungkus nasi dan memarkir mobilnya persis di depan kedai kasur. Tanpa diduga, pemilik kedai menegurnya: “jangan parkir didepan kedai saya pak, gelap!” sang pengarang merasa tak bersalah karena ia parkir bukan di trotoar, melainkan dipinggir jalan dan tak ada sangkut pautnya dengan kedainya yang berhalaman trotoar. Jadi sang pengarang tidak menggubrisnya. Namun dalam hatinya merasa dongkol. Akan tetapi, ia tidak mengadakan pembelaan, kecuali membiarkan mobilnya tetap parkir di tempat itu sampai ia selesai membeli nasi. Di hari yang lain, ketika sang pengarang mampir lagi untuk membeli nasi di warung itu, ia sedang menyaksikan pertengkaran antara penjual rokok dengan seseorang diluar kedai nasi yang bersebrangan dengan kedai kasur. Selidik punya selidik ternyata perkaranya bermula dari seseorang melempar punting rokok yang masih berapi tepat didepan kedai kasur sehingga pemilik kedai kasur itu marah. “Seenaknya saja langgananmu membuang punting rorkok berapi ke depan kedaiku kalau terjadi kebakaran bagaimana? Kamu bertanggungjawab? Kapuk kasur ini barang mudah terbakar, atau?”
Tiga kali peristiwa yang terekam secara tak sengaja itu memicu pelatuk imajinasi sang pengarang. Sesampai dirumah, ia segera mengambil kertas dan mesin tik lalu membayangkan kegusaran istri pemilik kedai kasur itu. Kegusaran terjadi terus menerus karena senantiasa membandingkan kelarisan dagangan tetangganya dengan dagangannya yang sesekali saja dibeli orang. Tidak mungkin setiap hari di areal yang tidak terlalu luas itu, penduduknya membutuhkan kasur dan bantal. Oleh karena itu sang pengarang melukiskan konflik antara pemilik kedai kasur dengan pemilik kedai nasi di sebelahnya yang berakhir dengan kefatalan di pihak pemilik kedai kasur.*
Dikutip dari buku kiat menulis cerita pendek:
Harris ET. Hl.15


Tidak ada komentar:

Posting Komentar