Selasa, 28 April 2015

Manusa Harmau

Manusia harimau , manusia srigala dan fampir atau manusia kuat lainnya saat ini menjadi topic sinetron yang nghit .hampir di seluruh chanel televisi menajukan atau menayangkan sinetron hiburan tersebut . memang tayangan tersebut telah banyak mendongkrak , penonton yang banyak walaupun alur ceritanya ngawur dan tidak masuk akal apalagi bertujuan untuk indefikasi sangatlah jauh . karena masing-masing perusahaan pertelevisian tersebut bertujuan meraup keseuntungan . yah memang tak ketinggalan pula tayangan lain yang berorentasi pada nilai edukasi , demokrasi , serta mencerdaskan anak Bangsa , namun itupun masih bisa terhitung sedikit di bandingkan perusahaan yang bermotiv bisnis .
Berbicara manusia harimau secara sekilogis adalah manuasia , tangguh , pemberani , buas , dsb .mungkin cerita televisi tersebut benar atau fiktif belaka . yang pasti kita bisa mengamati dan mengambil hikmah dari setiap sajian yang ditayangkan di layar kaca .
Seseorang yang memiliki kekuatan , ilmu, atau kelebihan , atau kekebalan , pada dasarnya adalah untuk membela diri , mempertahankan bila diserang musuh, atau memang dijadikan sebagai kekuasaan atau kerajaan sebagaimana kita sebut harimau adalah raja hutan . artinya harimau lah yang terkuat , tak ada yang mengalahkannya . namun kekuatan tersebut terkait pada pemiliknya apakah siraja hutan itu semata mata menjaga diri , lingkungan , atau bahkan untuk menyakiti dan menganiyaya yang lebih lemah dari padanya.
Begitulah kira-kira kita bisa bercermin dari si raja hutan yang buas itu. Kita ilustrasikan seandainya harimau itu adalah para penguasa, para penjabat, atau orang kaya yang ada di Negara kita. Tentu banyak pendapat bukan ? namun penulis yakin mayoritas penguasa, pejabat, para kolomringat hanya mementingkan diri sendiri bahkan menindas orang-orang lemah atau kecil yang miskin misalnya .kekuatannya, kekusaannya, bukan untuk melestarikan lingkungan, melindungi dan mengangkat derajat rakyat kecil. Malahan pepatah ini yang semakin popular, yakni yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin karena semua dilakukan atas nama individualisme. Rasa hormat, saling menghargai dan melindungi semakin jauh. Rasa saling empati dan simpati semakin kritis pada masyarakat di negera ini.
Andai para penguasa meneladani sosok Rasulullah saw yang dermawan, menghargai, menolong dan memberikan harta bendanya untuk umatnya yang membutuhkan. Selain itu banyak para sahabat yang terkenal dermawannya misalnya abu bakar, atau salah satu nabi sulaiman as yang di ceritakan orang terpandai dan terkaya sejagat raya namun tak ada sedikit pun rasa sombong darinya. Karena iya tahu semua adalah titipan allah swt. Nabi sulaiamn selalu menolong yang lemah, orang-orang kecil atau rakyat kecil bahkan semut kecil pun di beri perlindungan.
Andai di penguasa tercinta ini tak ada yang korupsi, tak ada yang apaktis, idealisme, mungkin tak ada lagi yang menjadi pengemis, pengangguran, kesengsaraan, kelaparan bahkan gizi buruk yang menimpa masyarakat Indonesia.
Kesimpulannya kita boleh menghimpun kekuatan seperti raja hutan yang berkuasa, namun kekuatan itu digunakan untuk melindungi rakyat kecil agar tak ada tuntutan di akhirat kecuali karena amanah yang di emban tak di selewengkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar