Kamis, 23 April 2015

Mengapa Kita Perlu Menulis

Saat anda membaca pertanyaan diatas, pastinya anda memiliki jawaban masing-masing. Barang kali anda sebagai penulis buku best seller jika tidak menulis tidak akan mendapat uang, atau anda sebagai penulis lepas (free lance) jika tidak produktif menulis maka pendapatannyapun akan sedikit. Anda sendiri yang sedang belajar dan memulai menulis untuk terus memperlancar atau memperbaiki kualitas tulisan anda. Dan pastinya ada jugakan yang tiada hari tanpa menulis di buku diary untuk mencurahkan isi hatinya, sehingga kita menganggap bahwa menulis itu penting. Ya, saya tegaskan menulis itu penting bahkan kini menjadi kebutuhan.
Sekedar berbagi dibawah ini diantaranya alasan-alasan mengapa kita perlu menulis:

1. Agar dapat menelusuri jejak pendahulu
Apalah jadinya jika orang-orang terdahulu tidak mau menulis ide-ide atau gagasan-gagasan cemerlangnya? Apalah jadinya jika mereka hanya piawai dalam berpidato, ceramah meskipun isinya sangat menggugah, memotivasai atau inspiratif jika mereka tidak menuliskannya?
Benarlah kiranya, banyak peradaban ini berkembang karena tulisan, bukan omongan. Bayangkan seandainya Soekarno, Gusdur, Nurkholis Majid, Amin Rais dan tokoh-tokoh lain hanya bisa ngomong. Apakah mungkin kita bisa menelusuri pemikiran dan gagasan mereka? Dalam perspektif antropologi, ternyata penggunaan bahasa tulis berbanding lurus dengan tingkat peradaban suatu masyarakat. Artinya, semakin intensif suatu masyarakat mengungkapkan gagasannya secara tertulis, semakin tinggi pula tingkat peradaban merkea. (M. Mufti Mubarok : 2011). Sebagaimana ada sebuah ungkapan,“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra menjadi bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek.” (Barbara Tuchman).
“...Membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau-yakni para penulis itu. Ini semua bahka merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu merkea menuangkan gagasan-gagasan merka yag terbaik semata-mata..”(Rene Descartes).
Meskipun saat ini teknologi semakin canggih hingga suatu berita atau peristiwa dengan cepat bisa tersaji, seperti Televisi, radio dan media elektronik lainnya, tetapi tetap saja sebuah tulisan atau teks menjadi kebutuhan, sehingga media cetak misalnya masih laku dibeli oleh banyak orang. Karena tulisannya dapat ditelusuri dengan mudah jika sewaktu-waktu dicari atau dibutuhkan untuk dijadikan sebagai kutipan atau bahan referensi. Dan hal itu diantaranya berkat para jurnalis yang rajin menulis dan menyajikan berita/fakta secara tertulis.

2. Agar dapat mengikat ilmu
Ali Bin Abi Thalib pernah berujar “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Jelaslah dari  kata sayyidina Ali tersebut bahwa salah satu cara untuk menghimpun ilmu adalah dengan menuliskannya atau mencatatnya. Seperti penggembala kambing agar tidak kehilangan kambingnya maka harus mengikatnya dengan tambang. Tetapi jika melihat fenomena saat ini pelajar misalnya, sangat jarang menulis atau mencatat, karena sekarang sudah jamannya teknologi. Guru dalam menyampaikan materinya tinggal menyalakan infokus dan para siswa langsung menikmati dan melihat infokus atau slide-slide materi. Katanya supaya kegiatan belajar mengajar menjadi efektif dan efisien padahal jika para siswa tidak mau menulis akan bahaya juga. Nanti tidak aka ada bahan yang bisa dibaca/dipelajari saat dirumah atau di luar sekolah. Jika seseorang mencintai ilmu maka salah satu upaya yang harus dilakukannya adalah membaca dan menuliskannya.
Sejarah telah membuktikan, bahwa ulama tempo dulu seperti Syekh Nawawi Tanara telah membuktikan kepiawaiannya dalam memajukan dan mengembangkan dunia pendidikan. Dia seorang ulama besar sekaligus guru. Namun beliau telah banyak mencetak (meluluskan) ulama besar, seperti KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Sykeh Asnawi Caringin dan ulama-ulama besar lainnya yang tak dapat disebutkan. Dan disela-sela kesibukannya Syekh Nawawi sangat produktif mengarang kitab-kitab dan tulisan-tulisan yang dapat dijadikan rujukan bagi para pelajar. Meskipun saat ini kita tidak bisa melihat wajahnya tetapi kita tetap bisa mempelajari ilmu darinya karena dimasa hidupnya pernah mengarang atau menuliskannya dalam bentuk kitab. (Bang Mukti El-bantany, Kabar Banten, 07 Maret 2011).
Salah satu contoh lagi jika kita melihat riwayat Imam Bukhori (salah satu periwayat hadis shahih) sejak kecil, terilhami menghafal hadis ketika berumur 10 tahun dan mempunyai daya ingat yang luar biasa. Walaupun mendapat julukan Amirul Mukminin fil hadits, beliau juga menguasai ilmu tafsir, fikih, dan tarikh dengan baik. Taukah anda bahwa kitab “Shahih Bukhari” yang berisikan 7275 hadis shahih adalah ditulis selama 16 tahun setelah menyusuri 7 negara, 80.000 perawi dan mengumpulkan 200.000 hadits yang dihafalnya. Andaikan Imam Bukhari  dulu tidak menulis hadits-hadits yang telah dihapalnya, maka kita tidak akan pernah mendengar sebuah buku yang bernama kitab ”Shahih Bukhari”.
Sa’ad bin Jubair pernah berkata: “Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat dilembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian ditangannku. Ayahku sering bertkata: Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tuliskanlah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.”

3. Memanfaatkan peluang
Era reformasi membawa perubahan terhadap perkembangan media masa (media cetak, media elektronik, dan media online). Perkembangan ini memberikan ruang gerak kepada para wartawan dan penulis. Tumbuh dan berkembangnya media massa tidak hanya memberikan ruang yang luas kepada wartawan, tetapi juga menjadi ladang emas bagi penulis lepas (free lance). Sebuah kerugian besar jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan. Apalagi ketika penghargaan terhadap penulis kian besar dan membuat penulis menjadi terkenal. (Waitlem: 2007).
Oleh karenanya bolehlah kita menikmati dan menanti tulisan-tulisan para pengarang terkenal di koran-koran, buku-buku, atau majalah langganan kita. Tetapi sekali-kali kita jangan terus menjadi pembaca, melainkan harus menjadi penulis. Jika menjadi penulis disamping mendapat uang kita juga telah menyumbangkan berbagai ide atau gagasan bahkan renungan kita yang kiranya akan bermanfaat bagi orang lain baik untuk saat ini maupun dimasa yang akan datang.

4. Karena menulis juga menjadi obat
Pada tahun 1986 James W. Pennebaker dan reakannya Sandra Beall melakukan riset tentang hubungan antara kegiatan menulis dan kesehatan. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa seseorang yang sering menulis lebih jarang sakit. Dengan menulis seseorang akan lebih tenang dan kegelisahan bisa terendam. Akibatnya, energi yang sedianya digunakan untuk merendam kegelisahan bisa terkumpul untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Pennebaker juga menyimpulkan bahwa menulis rutin setiap hari selama 15-30 menit dengan gaya narasi, mampu membuat kondisi tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat. Dari berbagai uji coba, terapi ini mampu menyembuhkan banyak orang dengan berbagai jenis penyakit, dari stres, trauma, sampai penyakit yang lebih berat seperti kanker. (Majalah Ummi spessial April-Juli 2011).
Jadi meskipun tulisan kita tidak dipublikasikan atau tidak berdampak yang berarti bagi orang lain setidaknya akan sangat bermanfaat bagi diri kita khususnya kondisi tubuh kita agar tetap sehat.
Maka tidak heran jika sebuah penerbit majalah “Tarbawi” misalnya, sampai mengadakan sekolah menulis kearifan, karena menulis lebih dari persoalan teknis, menulis adalah kerja filosofis. Lebih dari upaya merangkai fakta, menulis adalah ikhtiar menemukan dan mengikat makna. Lebih dari membagi gagasan dan menulis adalah menuangkan renungan dan penghayatan.
Diakhir tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa banyak orang yang memimpikan menjadi penulis ya termasuk saya, meskipun beribu-ribu buku teori menulis telah di baca, pasti impiannya tidak akan terwujud. Kenapa, karena menulis tidak akan bisa dipelajari akan tetapi harus dipraktekkan. Dalam sebuah buku yang dikarang oleh Gol A Gong bahwa ada 3 kunci agar seseorang bisa menulis yaitu, pertama menulis, kemudian menulis dan menulis. Jadi jangan buang-buang waktu dan selalu sibuk bertanya bagaimana cara menulis, apalagi bertanya mengapa kita perlu menulis. JK Rowling pernah berkata “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.”
Anda tidak akan bisa belajar menulis/mengarang dengan membaca buku ini. Sebab buku ini adalah buku tentang menulis/mengarang . Artinya, dengan membaca buku ini anda baru belajar tentang dan sama sekali belum belajar menulsi/mengarang. Menulis/mengarang adalah praktek, sehingga dengan melakukannya anda bisa. Dalam sebuah buku (Andrias Harefa :2002).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar