Kamis, 23 April 2015

Sedia Payung Setelah Hujan

Sedia payung sebelum hujan, itu dulu. Sekarang, “kehujanan dulu baru sedia payung”. Buktinya: Kasus AirAsia.
Setelah musibah melanda perusahaan penerbangan asal Malaysia itu, beberapa masalah baru terungkap. Banyak yang kemudian bertanya dengan nada yang getir, “selama ini kemana aja!”.
Seperti diketahui, jadwal penerbangan rute Surabaya-Singapura PP yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu. Namun AirAsia justru terbang pada Senin, Rabu, Jum’at dan Minggu.
Pesawat tersebut hilang kontak saat terbang dari Surabaya ke Singapura pada Minggu 28 Desember 2014. setelah kejadian musibah. Kementrian Perhubungan yang juga sebagai pihak terkait, langsung membekukan izin penerbangan AirAsia rute Surabaya-Singapura mulai 2 Januari 2015. pihak AirAsia membantah telah melanggar izin penerbangan.
Selain izin penerbangan yang dinilai illegal, beberapa persoalan lain terkait AirAsia juga mencuat. Beberapa pihak saling menyalahkan. Ada juga yang menilai bahwa semua pihak sebaiknya intropeksi, termasuk Kementrian Perhubungan.
Yang menarik dari kasus ini bahwa kita lagi-lagi dihadapkan kepada budaya “kehujanan dulu baru sedia payung”, setelah kejadian baru ribut. Setelah ribut –rebut, dingin lagi, lupa lagi.
Kita ingat misalnya kasus kecelakaan mobil dijalan tol yang melibatkan putra musisi Achmad Dani setelah kejadian itu aparat kemudian merazia pengendara sepeda motor atau mobil yang berseragam sekolah dan belum cukup umur serta belum memiliki SIM. Sempat heboh, lama-lama isu ini kemudian menghilang.
Kasus lain, misalnya keributan antara oknum TNI dan Polri. Setelah keributan, muncul beberapa opsi supaya kasus ini tidak terulang disertai alternative-alternative penyelesaiannya. Tapi kita tidak tahu bagaimana konsistensi penyelesaiannya sembari berharap bahwa kasus ini tidak terulang.
Persoalan lain, asap yang menyelimuti Sumatera misalnya. Kasus ini seolah-olah menjadi ritual tahunan, sama seperti perbaikan jalan di jalur Pantura yang selalu bekerjaran dengan arus mudik lebaran. Walau terjadi hampir setiap tahun, tapi “hebohnya” hanya sesaat setelah kejadian, setelah itu adem-adem ayem lagi.
Kecelakaan kereta api yang kemudian melahirkan beberapa alternatif pencegahannya, juga kerap kali hanya heboh sesaat, lalu hilang lagi, sama seperti harga cabai yang naik “gila-gilaan” hampir setiap tahun.
Lalu kemana semboyan “sedia payung sebelum hujan”? Apakah sudah diganti dengan “sedia perahu karet sebelum hujan”? Kemana langkah-langkah antisipatif yang dicanangkan setelah kejadian sebelumnya
Kalau sudah terjadi, kenapa bisa terulang? Bukankah sempat ramai dengan berbagai macam jalan keluar dan alternarif penyelesaian? Salah satu jawaban sederhananya, karena kita selalu “ sedia payung setelah hujan” dan lemahnya control dan evaluasi.

Kenapa bisa begitu nah, inilah yang kita tunggu-tunggu dari “revolusi mentalnya” Presiden Jowowi.*
Rakyat Merdeka, 04-01-15.#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar