Kamis, 23 April 2015

Sastrawan ARSWENDO ATMOWILOTO

Riwayat Hidup
Nama asli Arswendo  Atmowiloto adalah Sarwendo. Ia lahir pada tanggal 26 Novembr 1948 di Solo, Jawa Tengah. Ia mengubah nama aslinya menjadi Arswendo karena pertimbangan komersial dan popularitas. Sedangkan Atmowiloto adalah nama sang ayah. Nama samara Sarwendo lainnya adalah Sukmo Sasmito, Lani Biki, Said Saat, dan B.M.D. Harahap.
Arswendo pernah menempuh pendidikan di IKIP Solo, tapi tidak selesai. Ia kemudian memilih berkarier di bidang jurnalistik. Arswendo tercatat pernah menduduki beberapa jabatan penting, seperti pemimpin redaksi majalah Hai (sejak 1986), pemimpin redaksi dan penanggung jawab tabloid Monitor (1986) dan pengarah redaksional majalah Senang (1989).
Pada tahun 1990. Arswendo sempat merasakan hidup dalam penjara. Ia harus menjalani hukuman tersebut karena dituduh melakukan penghinaan terhadap suatu agama di Indonesia melalui sebuah angket di tabloid Monitor. Lima tahun kemudian, Arswendo barulah dibebaskan. Selanjutnya, ia mendirikan PT. Atmo BismoSagotrah, yang meneribitkan majalah Bianglala, Ino, dan tabloid Pro-TV. Saat ini, nama Arswendo lebih dikenal sebagai seorang produser, penulis skenario, dan sutradara untuk tayangan televisi.

Riwayat Kepengarangan
Arswendo Atmowiloto adalah salah seorang pengarang paling produktif di Indonesia. Pada dekade ’60-an, cerpennya sering muncul di beberapa media nasioanl, sebelum kemudian disusul oleh novel-novelnya.
Sebagai seorang pengarang popular, Arswendo menunjukkan kualitas estetika yang sangat memadai. Arswendo juga pernah melakukan percobaan eksperimentatif di bidang cerpen. Ia menampilkan sebuah narasi pendek yang hanya terdiri dari dua hingga tiga baris kalimat. Sebuah cerpen Arswendo yang berjudul “Dua kelamin bagi Midin” terpilih sebagai salah satu Cerpen Pilihan Kompas pada tahun 1972. Pada tahun 2003, cerpen ini kembali dipublikasikan dalam Dua kelamin bagi Midin: buku kumpulan cerpen berjudul Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980.
Secara umum, gaya kepengarangan Arswendo Atmowiloto dikenal lewat kemahirannya menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam ceritanya, serta pemilihan bahasa yang antiklise, ruwet, dan padat sehingga mengharuskan pembaca melakukan pemahaman yang mendalam untuk bisa mengerti isi cerita karyanya. Di sepanjang karier kepengarangannya, beberapa novel karya Arswendo yang dianggap cukup berbobot antara lain Bayang-bayang Baur (1976), The Circus (1977), dan Semesra Merapi dan Merbabu (1977). Sastrawan peraih SEA Write Award pada tahun 1987 ini telah memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama sebanyak tiga kali, masing-masing untuk novelnya yang berjudul Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mandoblang (1987).
Selain menghasilkan novel sastra, Arswendo ternyata mahir pula menulis novel silat. Sinopati Pamungkas adalah novel serial silat karyanya yang cukup terkenal pada tahun 80-an. Di kemudian hari, novel serial tersebut dikumpulkan dan diterbitkan kembali dengan judul Sinopati Pamungkas 1 dan Sinopati Pamungkas 2 (2003).
Arswendo adalah seorang penulis yang produktif dan kreatif. Ketika menjalani masa hukuman selama lima tahun, ia tetap menghasilkan karya-karya dalam penjara. Ia pun dikenal sebagai tokoh sastrawan yang melahirkan “sastra penjara”, yang merekam kehidupan dunia hitam para penjahat dan narapindana. Selain novel, Arswendo juga mahir menulis naskah drama. Drama karyanya antara lain Penantang Tuhan, Bayiku yang pertama, dan Sang Pangeran. Drama karya Arswendo ternyata mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat penikmat seni, di samping itu juga berhasil meraih hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 70-an. Dikemudian hari, Arswendo lebih dikenal sebagai seorang penulis skenario yang produktif.
Ensiklopedi Sastrawan Indonesia J. 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar